Rabu, 22 Februari 2012

Memahami Ilmu Alat

Rasulullah s.a.w. bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا ماَ تَمَسَّكْتُمْ بِهماَ كَتاَبَ اللهِ وَسُنَةَ نَبِيِّهِ ,رواَه مالك
“Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu berupa kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya:. (HR. Malik)

Jadi berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi adalah jaminan keselamatan dunia dan akhirat, jadi memahami dan mengamalkan isi keduanya merupakan keniscayaan.

Di antara modal untuk memahami Al-Qur'an secara mendalam adalah penguasaan terhadap ilmu alat, ilmu alat adalah ilmu untuk mengikat/memperdalam syariah/ibadah. Bila ingin membaca Al-Qur'an maka ilmu alatnya adalah ilmu tajwid, faroidh untuk ilmu tentang warisan. Adapun untuk mendalami warisan Nabi Muhammad s.a.w. yakni Qur'an dan Sunnah diperlukan pemahaman tentang Bahasa Arab yang baik, yang ilmu alatnya bila mengacu pada perkataan Syekh Mushthofa Al-Gholayayn dalam kitab Jami'ud Durus al-lughoh al-'arobiyyah, maka ada 13 ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab yakni:
1. Shorof
2. I'rob / Nahwu
3. Rosm
4. Ma'ani
5. Bayan
6. Badi'
7. 'Arudh
8. Qowafi
9. Qordhusy Syi'r
10. Insya'
11. Khitobah
12.  Tarikhul Adab
13. Matnul Lughoh

Di pesantren-pesantren klasik, pembelajaran ilmu alat ini merupakan dasar-dasar pelajaran yang harus dikuasai oleh santri sehingga ketika mengkaji kitab lain seperti fiqih, tauhid, akhlaq, tafsir, tasawwuf, dan lain-lain, ilmu alat menjadi pegangan pemahaman. 

Untuk ilmu shorof biasanya materi biasanya diambil dari kitab Al-Imtsilah At-Tashrifiyyah, Kailani, maupun alfiyyah, dll. Adapun ilmu nahwu diambil dari kitab "Jurumiyyah, Maqshud, dan alfiyyah". 

Ilmu Ma'ani, Bayan, dan Badi' yang digabung menjadi ilmu balaqhoh mengambil kitab jawahirul balaghoh, qowa'idul lughoh, maupun jauharul maknun.



Selasa, 10 Januari 2012

Biografi Pengarang Kitab Durus al-Fiqhiyyah

Nama lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Saggaf bin Husen bin Abubakar bin Umar bin Saggaf Assagaf. Beliau dilahirkan pada tahun1309 H di Kampung Pekojan, Jakarta. Ibunya bernama Syarifah Ummu Hani binti Abdurahman Assagaf. Beliau termasuk ulama klasik yang hidup di zaman al-Habib Ali Al Habsyi Kwitang.

Habib Abdurrahman Assagaf memulai studinya semasih kanak kanak dibawah pengawasan ayahnya Habib Saggaf bin Husen Assagaf yang mahir dalam bahasa Arab selama beberapa tahun sampai ia mampu memahami kitab-kitab Arab klasik. Setelah usianya 9 tahun, ia diberangkatkan ke kota Sewun Hadramut – Yaman untuk meneruskan studinya. Guru-gurunya di Hadramut di antaranya adalah syiekh Muhammad bin Muhammad Bakstir, seorang ulama ternama di kota Sewun pada zamannya. Hb Ahmad bin Abdurhaman Assagaf (ayahnya Hb Abdul Qadir Assaegaf-Jeddah), Hb Muhammad bin Hadi Assegaf dan masih banyak lagi ulama tidak bisa disebut satu persatu secara rinci. Setelah sampai pada usia dewasa kurang lebih 22 tahun ia kembali ke Jakarta.

Setibanya di Jakarta ia ditunjuk sebagai nadhir dan guru di Madrasah Jamiat Khair – jakarta. Dalam masa waktu kurang lebih 18 tahun dia mengembangkan ajaran-ajaran Islam di madrasah trb. Pada tahun 1349 H (1930M) beliau dipilih oleh pemerintah setempat untuk memangku jabatan sebagai Qhadi di Jakarta dan penulis wakalah syar’iyyah selama kurang lebih 20 tahun.

Setelah lama memangku jabatan sebagai ghadi, pada tahun 1369 H (1950 M) ia mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena usia yang sudah udzur.  Pada tanggal 27 Rabi’ul Awal 1390 Hijriyah bertepatan dengan 6 Juni 1970 Masehi Habib Abdurrahman Assagaf wafat dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman wakaf syeikh Naum di Tanah Abang yang makamnya berdekatan dengan makqam Habib Utsman bin Yahya. Sayangnya, kemudian pemakaman ini diambil-alih oleh pemerintah dan dibongkar. 
Disamping tugas beliau sebagi ghadi, pengajar, penulis wakalah syariyah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 8 buku yang telah dikarangnya sampai sekarang masih dipelajari di pasantren pasantren yang beraliran Alhli Sunnah Wal jamaah di seluruh Indonesia. Kitab atau risalah yang ditulis Hb Abdurrahman bin Saggaf Assagaf diantaranya Ad-Durusul Fiqhiyyah yang terdiri dari 4 jus dan Al-Aqaid Ad-diniyyah juga terdiri dari 4 juz.

Kitab kitab Fiqih dan Aqaid ditulis oleh beliau disaat memangku jabatan sebagai nadhir dan pengajar di madrasah Jam’iyat Khair – Pekojan dan Tanah Abang. Buku buku beliau diterbitkan pertama kali oleh penerbit Bin Afif Surabaya yang kemudian diambil alih hak ciptanya oleh penerbit Bin Nabhan Surabaya dan dicetak ulang pada tanggal 1 Jumad tsani 1373H bertepatan tanggal 5 Febuari 1952. Semua kitab kitab beliau dalam bahasa Arab sampai saat ini masih beredar dan dicetak pada kertas Koran (stensil) agar bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kitab ini, “Akidah Menurut Ajaran Nabi”, merupakan syarah dari kitab Al-Aqaid Ad-Diniyyah juz ke 4 karya Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf. Kitab ini secara garis besar memuat pokok pokok bahasan tentang kewajiban setiap mukallaf mengenal Allah dan rasul-Nya, uraian tentang sifat dua puluh, pembagian sifat dua puluh menjadi empat bagian: sifat nafsiyyah, salbiyyah, ma’ani dan ma’nawiyah, sifat wajib bagi rasul dan lawannya, iman kepada para nabi dan rasul, malaikat, kitab kitab samawi dan hari akhir, peristiwa khariq al-‘adah dan semua bahasan tentang sam’iyyat yang wajib diimani oleh setiap muslim, semuanya ini dibahas atau disyarah dalam bahasa Indonesia secara rinci menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Manshur al-Maturidi dan pengikut pengikut mereka.

Sebagai penutup saya (cucu pengarang) berharap semoga buku yang berjudul “Akidah Menurut Ajaran Nabi” syarah kitab al-Aqaid ad-Diniyyah karya Habib Abdurahman bin saggaf Assagaf bisa membawa mangfaat dan keberkahan bagi kita dan insyallah dapat pula menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal Allah dan Rasul-Nya. Amin

Rabu, 02 November 2011

Kitab Kuning, Lautan Ilmu Agama

Kitab kuning adalah lautan ilmu agama, disebut kuning karena kertasnya berwarna kuning dengan tinta berwarna hitam. Di pesantren-pesantren Indonesia tentunya istilah ini sudah tidak asing lagi karena memang buku acuan pendidikan di pesantren sampai saat ini masih setia menggunakan kitab kuning. Untuk mendapatkannya juga tidak sulit saat ini, di Jakarta saya biasa membelinya di toko-toko kitab yang tersebar di seantero Jakarta seperti Wali Songo dan Menara Kudus di Kwitang Jakarta Pusat serta Ar-Riyadh dan Al-Idrus di Tanah Abang juga Jakarta Pusat. Di Surabaya saya pernah berpetualang di puluhan toko kitab di dekat makam Sunan Ampel di sepanjang jalan Sasak dan Panggung yang konon sudah ada sejak tahun 1.908.

Pernah beberapa kali saya bertemu dengan orang-orang yang agak "parno" alias paranoid dengan kitab kuning, alasannya sih katanya kitab kuning itukan karangan manusia biasa sehingga tidak mungkin 100 persen benar, sehingga lebih tepat kalau kita tidak menjadikannya sebagai acuan tetapi langsung saja pada Al-Qur'an dan Hadits. 

Bukannya meremehkan, tapi sahabat-sahabat yang paranoid dengan kitab kuning sejauh yang saya tahu mereka ternyata tidak hanya anti tapi "benar-benar tidak bisa membaca" kitab kuning. Sebab memang untuk bisa membaca kitab kuning bukan perkara mudah. 

Berbeda dengan Al-Qur'an yang insya Allah jika kita sudah mengkhatamkan iqro' jilid 6 akan mudah kita baca, kitab kuning walaupun sama-sama bertuliskan aksara arab tidak mengandung tanda baca, alias "gundul". Kadang-kadang yang ada tanda baca (harokat)nya saja kita masih bingung apalagi ini tanpa tanda baca. 

Nah, untuk membaca kitab kuning dengan baik sehingga bisa mencerna isinya ternyata diperlukan beberapa bidang kemampuan bahasa Arab yang disebut dengan ilmu alat. Ilmu alat secara sederhana bisa kita sebutkan seperti Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, Ilmu Balaghoh, serta Ilmu 'Arudh.

Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mengupas tentang harokat akhir suatu kata, sedang shorof mengupas tentang perubahan tiap kata tadi, ilmu balaghoh mengupas tentang seni bahasa atau sastra, dan ilmu 'arudh mengupas tentang syair-syair Arab yang bertebaran di banyak kitab kuning.

Ilmu alat bagi orang yang ingin mendalami kitab kuning ibarat ilmu tajwid bagi orang yang ingin mendalami al-Qur'an, jadi mari kita arungi lautan ilmu yang ada dalam ribuan kitab kuning dengan mempelajari ilmu alat terlebih dahulu.



Rabu, 24 Agustus 2011

Berapa Kecepatan Sholat Tarawih Anda??

Kebut-kebutan sholat tarawih?, fenomena ini biasanya berlangsung bagi jama'ah yang sholat tarawihnya 20 roka'at. Dahulu waktu masih di pondok ada istilah kecepatan "Lorena, Budi Jaya, Selamet, Garuda Mas" bahkan "dokar" bagi imam-imam sholat tarawih di pondok. Semakin cepat sholat semakin banyak penggemarnya.

Kalau di pondok sih al-faqir masih maklum karena biasanya di sana setelah sholat tarawih para santri harus segera mengikuti pengajian-pengajian kilatan yang diselenggarakan bahkan hingga larut malam. Bagi santri mengaji masih lebih utama daripada sholat sunnah.

Tapi kalau di lingkungan masyarakat biasa sholat tarawih dengan kebut-kebutan sepertinya al-faqir kurang setuju. Walaupun imam dengan bacaan cepat tentunya akan menjadi favorit di kampungnya (minimal anak mudanya karena biasanya orang tua akan mengeluh juga bila terlalu cepat). Tapi biasanya kurang memperhatikan kekhusyu'an dan kualitas bacaan.

Memang sih, dengan jumlah roka'at yang banyak itu kasihan juga para jama'ah kalau harus mengikuti bacaan imam yang lama. Tapi jangan sampai dengan mengejar sholat cepat, nilai ibadah sholat kita jadi kurang optimal karena kurang khusyu' atau bahkan mengurangi jumlah bacaan. Contohnya bila imam ruku' dan sujud dengan cepat tentunya kita tidak cukup untuk membaca tasbih 3 kali..

Jadi lebih baik walau cepat kita tetap memperhatikan kekhusyuan dan kualitas bacaan.

Tarawih Kita

Setiap Ramadhan, sesuatu yang tidak ada di bulan-bulan lain diantaranya adalah sholat tarawih. Sudah menjadi kebiasaan di berbagai penjuru dunia saat ini, sholat tarawih dilaksanakan dengan berjamaah dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda sesuai dengan pilihannya.

Bagi yang sholat tarawih 20 raka'at, di banyak tempat di Indonesia maka pilihan ayatnya biasanya pada 15 hari pertama adalah:
1. At-Takatsur dan Al-Ikhlash
2. Al-Ashr dan Al-Ikhlash
3. Al-Humazah dan Al-Ikhlash
4. Al-Fiil dan Al-Ikhlash
5. Al-Quraisy dan Al-Ikhlash
6. Al-Ma'un dan Al-Ikhlash
7. Al-Kautsar dan Al-Ikhlash
8. Al-Kafirun dan Al-Ikhlash
9. An-Nashr dan Al-Ikhlash
10. Al-Lahab dan Al-Ikhlash
Sedangkan pada 15 hari yang kedua pilihannya adalah:
1. Al-Qodr dan At-Takatsur
2. Al-Qodr dan Al-Ashr
3. Al-Qodr dan Al-Humazah
4. Al-Qodr dan Al-Fiil
5. Al-Qodr dan Al-Quraisy
6. Al-Qodr dan Al-Ma'un
7. Al-Qodr dan Al-Kautsar
8. Al-Qodr dan Al-Kafirun
9. Al-Qodr dan An-Nashr
10. Al-Qodr dan Al-Lahab

Atau bila tidak ingin ada pengulangan surat pada tiap raka'atnya seperti pengulangan surat Al-Ikhash atau Al-Qodr, maka bisa membaca surat-surat berikut:
1. Adh-Dhuha dan Asy-Syarhu
2. At-Tiin + Al-'Alaq dan Al-Qodr
3. Al-Bayyinah dan Al-Zalzalah
4. Al-'Adiyat dan Al-Qori'ah
5. At-Takatsur dan Al-'Ashr
6. Al-Humazah dan Al-Fiil
7. Al-Quraisy + Al-Ma'un dan Al-Kautsar
8. Al-Kafirun dan An-Nashr
9. Al-Lahab dan Al-Ikhlash
10. Al-Falaq dan An-Naas

Ada beberapa tempat juga yang menyelenggarakan 1 hari 1 juz, berarti bila 1 juz berjumlah 20 halaman, tiap raka'at dibaca 1 halaman. Dengan cara demikian berarti dalam tarawih sebulan (30 hari) akan khatam 30 juz.